Tugas I Politik Internasional

Standard

UNDERSTANDING CONFLICT
AND WAR: VOL. 4:
WAR, POWER, PEACE

Chapter 13

Comparative Dynamics
Of
International Conflict*

By R.J. Rummel

Chapter 13 ini menjelaskan beberapa penelitian terkait analisa penyebab terjadinya perang, proses dan ancaman perang yang bukan merupakan strategi militer. Para peneliti yang mengemukakan pendapatnya adalah Barringer, Northedge dan Donelan, Wright, dan Kahn.

1. Richard Barringer

Konflik diawali dengan adanya persengketaan yang terjadi di antara dua atau lebih aktor. Konflik ini melalui beberapa fase, yang pertama adalah fase dimana adanya keluhan dari salah satu actor yang tidak ditoleransi oleh actor yang lain. Fase kedua, perang dianggap sebuah kebijakan dan pilihan. Yang mampu mengambil pilihan perang yaitu Negara yang dapat menggerakkan militernya. Konflik sebagai sengketa antar actor- actor yang siap menggunakan kekuatan militer. Sebuah sengketa bisa berubah menjadi perang ketika opsi militer telah diperkenalkan dan digerakkan.

Fase ketiga dimana konflik itu menjadi konflik yang melibatkan actor lain. Konflik ini bukan hanya menjadi sebuah konsep lagi tetapi telah menjadi hal – hal real, contohnya adalah embargo. Fase keempat atau fase terakhir yakni fase dimana konflik bisa menjadi perang atau kemungkinan kedua konflik tersebut bisa diselesaikan.

2. F. N. Northedge dan M. D. Donelan

Tahun 1917 Northedge dan Donelan melakukan penelitian untuk menjawab apa itu konflik internasional, penyebab, bagaimana konflik meningkat dan bagaimana konflik diselesaikan.

Bahasa yang muncul dari kedua penulis ini adalah helix of conflict (konflik berstruktur) yang menjelaskan situasi normal berarti ada factor – factor konflik tetapi belum mencuat. Jadi situasi normal adalah konflik tersembunyi dimana ada potensi – potensi konflik. Konflik dimulai ketika terjadi benturan kepentingan, manifestasi dari sengketa dimulai dari kebutuhan dan respon dari pertentangan kepentingan. Biasanya hal ini ditanggapi oleh pemimpin Negara.

Ada beberapa fase yang dilalui, fase pertama adalah adu argument diplomatic. Fase kedua berupa propaganda dan terciptanya komunikasi yang negative seperti sangsi, boikot. Fase ketiga ketika sengketa meningkat, actor menggunakan kekuatan militer. Fase ini bisa berakhir tergantung penggunaan kekuataan yang koersif atau tidak. Ketika menghasilkan korban mengakibatkan dua kondisi yaitu perang meningkat atau intervensi dari pihak ketiga.

3. Quincy Wright

Wright punya 2 karya yaitu study of war dan study of international relations yang dilakukan pasca perang dunia kedua. Dia membatasi luasnya sense of conflict dengan membagi 4 fase. Fase pertama adalah kesadaran akan ketidak konsistenan. Fase kedua tekanan yang meningkat yaitu penggunaan kekuatan militer dengan tekanan yang rendah. Fase keempat adalah intervensi militer atau perang untuk mendikte sebuah solusi.

Wright membuat sebuah persamaan untuk lebih menjelaskan konsep yang dia miliki.

Equation 13.1:

dx/dt = (Nx + Fy) – (Cx + Wx) + (Px – Py) – (Vx – Vy),

dy/dt = (Ny + Fx) – (Cy + Wy) + (Py – Px) – (Vy – Vx),

where

x, y = states x and y;

dx/dt, dy/dt = growth rate of hostility for x, and for y;

Nx, Ny = perception of its national interests by x, and by y;

Fx, Fy = perception by x of forces immediately available to x, and by y;

Cx, Cy = perception by x of costs of hostilities and preparations, and by y;

Wx, Wy = perception by x of world pressures for peace, and by y;

Px, Py = perception by x of its and y’s long run power position, and by y;

Vx, Vy = perception by x of its vulnerability to destruction, and by y.

4. Herman Kahn

Penelitian dia lakukan pada tahun 1965 dan memunculkan karya yang berjudul On Escalation: Metaphors and Scenarios. Penelitiannya focus terhadap ekskalasi (peningkatan) perang nuklir. Dia menganalogikan tahap konflik menjadi perang sebagai anak – anak tangga. Anak tangga ini diibaratkan ketidaksepakatan dan perang ingin. Diapun menganggap bahwa situasi normal adalah konflik tersembunyi sehingga ekskalasi konflik dapat meningkat kapan saja.

Anak tangga pertama menggambarkan ketika ada ancaman. Anak tangga kedua ketika adanya aksi – aksi negative yang meluncurkan propaganda dan membatalkan perjanjian. Anak tangga ketiga ketika terjadi deklarasi formal. Anak tangga keempat ketika telah mensiapkan hal – hal yang akan digunakan sebagai kekuatan koersif. Kelima terjadi ketika komunikasi langsung maupun tidak langsung tentang kemampuan dan kapabilitas penggunaan kekuatan militer yang konfrontatif. Anak tangga keenam ketika mobilisasi signifikan yang biasanya menempatkan pos – pos militer. Ketujuh ketika penggunaan kekerasan secara legal misalnya menyerang warga sipil, blockade, embargo dan boikot. Kedelapan adalah bombing yaitu menyerang kedutaan besar, mendukung terorisme. Anak tangga kesembilan ketika konfrontasi militer yang dramatis terjadi. Anak tangga yang terakhir ketikan terjadinya pemutusah hubungan diplomatic dan perang yang besar dimana menggunakan nuklir sebagai senjata.

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s