Tugas I Terorisme dan Kejahatan Transnasional

Standard

TERORISME MENGANCAM KOTA MAKASSAR

“There are multiple ways of defining terrorism, and all are subjective. Most define terrorism as ‘the use or threat of serious violence’ to advance some kind of ’cause’. Some state clearly the kinds of group (‘sub-national’, ‘non-state’) or cause (political, ideological, religious) to which they refer”.

(Jason Burke,  Al-Qaeda: The True Story of Radical Islam (London: TB. Tauris & Co. Ltd), ch. 2, p. 22.

Terorisme adalah perbuatan yang menyebabkan rasa takut kepada masyarakat. Perbuatan ini menyerang fisik dan mental korban. Perbuatan terror sendiri sebagian besar tersistematis dengan baik bahkan dilakukan oleh sekelompok orang yang punya tujuan khusus baik politik, ekonomi, dan social.

Terorisme sendiri berasal dari kata bahasa Prancis le terreur yang mengacu kepada perbuatan pemerintah yang memenggal sekitar 40.000 orang yang anti pemerintah. Hal ini dilakukan untuk menimbulkan rasa takut kepada para pemberontak untuk mengurungkan niatnya untuk melawan pemerintah.

Setelah itu definisi terorisme kemudian meluas yang dulunya hanya berpusat kepada penyerangan fisik sekarang meluas ke penyerangan mental. Ketika seseorang dapat menimbulkan rasa takut maka perbuatan itu termasuk terror. Kemudian Negara-negara kemudian memberikan definisi tersendiri perbuatan-perbuatan apa saja yang termasuk tindakan terror.

Dunia internasional mulai bergerak melawan terorisme sejak peristiwa 11 September 2001 yang menyerang Amerika Serikat yang pada saat itu dikenal sebagai polisi dunia. Pada saat itu Pemerintah Amerika Serikat memberikan pilihan kepada Negara-negara lain untuk melawan atau tinggal diam terhadap aksi terorisme. Istilah yang berkembang pada saat itu carrot and stick, Negara-negara diberi pilihan untuk melawan atau tinggal diam terhadap aksi terorisme.

Di Indonesia sendiri, pada saat dipimpin oleh Megawati Soekarno Putri memilih carrot yang berarti ikut ambil bagian dalam pemberantasan terorisme. Pilihan ini kemudian diterjemahkan dalam bentuk Perpu No. 1 Tahun 2012 yang kemudian di sahkan menjadi UU No. 15 Tahun 2003, yang menjadi dasar pembentukan Densus 88. Densus 88 sendiri adalah pasukan khusus yang menanggulangi terorisme.

Aksi terorisme telah melanda Indonesia, sebut saja Bom Bali I dan II, Bom Hotel J.W Mariot, dan lain-lain. Di tingkat Regional ada beberapa kasus yang diduga merupakan aksi teroris dari kelompok-kelompok teror skala nasional dan internasional. Salah satu kejadian yang terjadi di Makassar adalah pelemparan bom Molotov di Gereja Kristen Indonesia Jl. Samiun Makassar.

Kejadian ini terjadi pada tanggal 14 Februari 2013 jam 4 subuh saat orang-orang sedang berpetualang dalam dunia mimpinya. Sekelompok orang yang mengendarai sepeda motor melemparkan bom rakitan atau Molotov kearah GKI. Hal ini menyebabkan terjadinya kebakaran di pintu masuk gereja tersebut. Kobaran api tersebut mengalihkan perhatian para pasukan keamanan GKI yang sedang sibuk menonton pertandingan sepak bola. Para pasukan yang terlatih ini kemudian bergerak cepat mengambil air untuk memadamkan api tersebut. Kejadian ini menyebabkan rutinitas persekolahan yang seyogyanya dimulai jam 7 pagi akhirnya terhenti sejenak dikarenakan kejadian tersebut. Para siswa, guru, dan pengurus gereja shok terhadap peristiwa tersebut. Pagi yang cerah itu ratusan kepala menengok ke gereja tersebut untuk melihat tempat kejadian tersebut, para petugas dari Laboratorium Forensik lalu-lalang sibuk mengumpulkan bukti kejadian. Dari beberapa bukti baik berupa sidik jari maupun rekaman cctv belum dapat mengungkapkan pelaku dan motif dari kejahatan ini. Para penghuni gereja yang sempat tertunda aktifitasnya akhirnya dapat mengontrol emosi tersebut dan melanjutkan kembali aktifitas seperti biasanya walaupun psikologi mereka masih terusik dengan rasa takut.

Ada yang mengatakan bahwa peristiwa ini merupakan rangkaian teror yang dilakukan di beberapa gereja sebelumnya untuk tujuan politis tertentu. Spekulasi-spekulasipun bermunculan, ada yang mengatakan kejadian ini berhubungan dengan SARA. Adapun spekulasi yang mengatakan bahwa kejadian ini berhubungan dengan pemilu gubernur yang dilaksanakan sebelumnya ataupun pemilu walikota nantinya.

Banyak pengamat yang mengatakan bahwa motif dari pelaku teror ini untuk memecah solidaritas masyarakat Makassar. Masyarakat Makassar dikenal sebagai masyarakat yang pluralitas, terdiri dari berbagai suku dan agama. Untuk memecah masyarakat maka dilakukan aksi teror terhadap suatu entitas tertentu (agama kristiani), terbukti dengan penyerangan sebelumnya yang semuanya menyerang gereja. Ketika beberapa tempat yang mempunyai kesamaan tertentu diserang orang, banyak asumsi yang muncul bahwa penyerangan itu merupakan penyerangan terhadap entitas tertentu yang mengakibatkan entitas tersebut menarik diri dari interaksi-interaksi dengan masyarakat sebab kecurigaan-kecurigaan yang bermunculan akibat peristiwa tersebut.

Asumsi kedua mengatakan bahwa ada agenda politik dibelakang runtutan kejadian teror tersebut, dengan menyerang salah satu entitas maka akan entitas tersebut akan bersatu dan membulatkan suaranya. Hal dapat digunakan dalam agenda politik, mungkin akan muncul seorang calon yang membawa entitas korban, ataupun ada calon yang berperan sebagai orang yang menaungi para korban.

Asumsi-asumsi diatas tidak boleh kita telan mentah-mentah dikarenakan kita belum mempunyai dasar dan bukti-bukti yang mendukung asumsi tersebut. Bahkan pihak kepolisian pun belum dapat memastikan apakah ini termasuk tindakan teroris ataupun kejahatan luar biasa. Hal ini didasari karena belum adanya bukti kuat yang mendukung bahwa kejahatan yang dilakukan oleh sekelompok orang tersebut merupakan terorisme, karena dalam perundang-undangan sendiri kejahatan ini menyinggung dua definisi yaitu terorisme dan kejahatan luar biasa. Kejahatan luar biasa dianggap terorisme ketika pelaku tersebut mempunyai motif tertentu dalam melaksanakan tindak kejahatannya. Pihak kepolisian mengatakan bahwa perilaku ini dapat dipastikan masuk ke dalam kategori teroris atau kejahatan luar biasa, ketika pelaku dan motif telah diketahui. Hal ini juga memudahkan pihak pengadil untuk menjatuhkan sanksi dan hukuman yang setimpal. Sampai sekarang kepolisian terus memburu para pelaku dan mempersiapkan segala kemungkinan yang dapat terjadi di kemudian hari.

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s