Globalisme

Standard

Berbicara mengenai globalisme adalah suatu paham globalisasi. Sedangkan globalisasi adalah proses terintegrasinya dunia, baik dalam segi ekonomi, politik, social-budaya dan lain-lain. Sebagian orang mengatakan bahwa globalisasi adalah fenomena yang baru saja terjadi akibat meningkatnya interaksi dunia melalui teknologi informasi. Tetapi tidak sedikit pula yang mengatakan bahwa fenomena Globalisasi adalah bentuk filosofi lama yang dikemas ulang. Globalisasi merupakan metafora bagi kelompok pendukung utopia pasar abad ke-19 untuk pandangan neoliberal mereka. Kredo (paham) inti neoliberalisme meliputi prioritas pertumbuhan ekonomi, pentingnya perdagangan bebas untuk merangsang pertumbuhan, pasar bebas yang tak terbatas, pilihan individual, pemangkasan regulasi pemerintah, dan dukungan pada model pembangunan social yang evolusioner sesuai dengan pengalaman Barat yang diyakini dapat diterapkan diseluruh dunia.

Paham pendukung utopia pasar abad ke-19 akhirnya terjadi dengan bentuk dan konsep baru yaitu globalisasi walaupun tetap dalam globalisasi tersebut sangat menjunjung paham neoliberalisme. Penyebaran konsep dan paham globalisasi sangat didukung oleh Negara-negara maju, contohnya Inggris dan AS. Akhir 1980-an, Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher dan Presiden AS Ronald Reagen sempat mengeluarkan pameo “There Is No Alternative”. Hal ini memberi tahukan kepada seluruh dunia bahwa tidak ada alternative lain selain globalisasi yang berarti globalisasi merupakan hal yang tak dapat terhindarkan. Sebelum terlalu jauh, diatas ada dua kata yaitu globalisme dan globalisasi. Globalisme adalah ideology pasar neoliberal yang mengurapi globalisasi dengan norma, makna, dan nilai-nilai tertentu, sedangkan globalisasi adalah proses social yang didefinisikan dan dijelaskan oleh berbagai komentar yang berbeda-beda, malah seringkali bertolak belakang. Maka dari buku ini, tidak akan mengomentari terlalu jauh tentang komentar-komentar tersebut. Tetapi lebih berusaha untuk menganalisis norma, makna, dan nilai-nilai tertentu dalam globalisasi.

Berbicara mengenai globalisasi merupakan sesuatu yang masih abstrak, karena ada yang mengatakan bahwa globalisasi adalah proses perubahan ekonomi, politik, dan cultural. Dalam buku ini dibagi menjadi empat kelompok perspektif yang mencoba menjelaskan konsep globalisasi.

Globalisasi adalah “Globaloney

Perspektif globaloney mengatakan bahwa globalisasi yang berlaku sekarang tidak akurat, banyak keliru, atau berlebih-lebihan. Mereka mengamati bahwa hamper semua yang berkaitan dengan proses transnasional diterima sebagai bukti adanya globalisasi dan pengaruhnya yang semakin meningkat. Dalam perspektif ini terbagi menjadi tiga kelompok yaitu kelompok pertama yang menolak kegunaan globalisasi sebagai konsep analitis yang tepat. Kelompok kedua menunjuk pada terbatasnya proses-proses globalisasi, sembari menekankan bahwa dunia tidak benar-benar terintegrasi seperti yang diyakini oleh para pendukung globalisasi. Kelompok ketiga berpendapat bahwa orang-orang yang menganggap globalisasi sebagai proses yang baru-baru saja terjadi akan gagal mendapatkan pemahaman yang lebih lengkap dan akan tergelincir karena kerangka historis mereka yang sempit.

Kelompok pertama, Salah satu pemikir dari kelompok ini adalah Susan Strange yang menilai globalisasi sebagai contoh utama dari penggunaan istilah yang kabur, dan menyatakan bahwa globalisasi telah digunakan dalam wacana akademik untuk mengacu pada “segala sesuatu mulai dari Internet hingga hamburger”.

Untuk memperbaiki kesalahan ini, saran ilmiah diajukan dalam dua jalur yang berbeda. Pertama, para peneliti diminta untuk menurunkan konsep globalisasi ke dalam konsep-konsep yang lebih kecil dan sederhana tetapi memiliki nilai analitis lebih tinggi karena konsep-konsep tersebut dapat dengan mudah dikaitkan dengan proses-proses empiric. Alasan inilah yang mendasari Robert Holton untuk menyampaikan pengabaian terhadap segala analisis teoritik umum dan lebih menghendaki pendekatan berjangka menengah (middle range approaches) yang berupaya memberikan penjelasan yang spesifik tentang fakta tertentu. Kedua, tugas utama para akademisi di ranah studi globalisasi yang baru ini adalah mengidentifikasi berbagai muslihat yang digunakan oleh para ideolog untuk mengisi istilah globalisasi ini dengan nilai dan makna yang meneguhkan agenda politik mereka sendiri.

Kelompok Kedua, Paul Hirst dan Graham Thompson mengklaim bahwa dunia ekonomi bukan merupakan fenomena global sesungguhnya, namun berpusat di Eropa, Asia Timur, dan Amerika Utara. Hirst dan Thompson membantah adanya globalisasi ekonomi dengan berlandaskan pada data-data empiris. Mereka bersikeras bahwa tanpa system ekonomi yang benar-benar global, tidak akan pernah ada globalisasi. Mereka juga mengatakan bahwa globalisasi adalah fenomena ekonomi. Akibatnya, mereka menggambarkan semua dimensi globalisasi – budaya, politik, dan ideology – sebagai refleksi dari proses ekonomi yang lebih dalam.

Kelompok ketiga, Robert Gilpin menegaskan adanya kecenderungan mengglobal, bahwa aspek penting dari globalisasi bukan merupakan perkembangan baru. Dengan mengutip Paul Krugman, Gilpin menyatakan bahwa ekonomi dunia akhir 1990-an tampaknya menjadi semakin tidak terintegrasi dalam sejumlah persoalan penting bila dibandingkan dengan sebelum Perang Dunia I. Tingkat transaksi ekonomi internasional pascaperang hanya memulihkan, globalisasi setara dengan yang pernah terjadi pada tahun 1913. Gilpin menambahkan, globalisasi angkatan kerja sesungguhnya jauh lebih besar sebelum Perang Dunia I, dan migrasi internasional turun setelah 1918. Karena itu, Gilpin memperingatkan pembacanya untuk tidak menerima argument dari mereka yang melebih-lebihkan globalisasi (hyperglobalizer).

Globalisasi adalah Proses Ekonomi

Hasil utama dari Konferensi Bretton Woods meliputi liberalisasi terbatas atas perdagangan dan penciptaan aturan-aturan yang mengikat kegiatan ekonomi internasional. Bretton Woods membentuk landasan institusional bagi pendirian tiga organisasi ekonomi internasional yang baru. International Monetary Fund (IMF) dibentuk untuk mengatur system keuangan internasional. International Bank for Reconstruction and Development, atau Bank Dunia, pada awalnya dirancang untuk memberikan pinjaman bagi pembangunan kembali Eropa pascaperang. Mulai tahun 1950-an, tujuan Bank Dunia diperluas menjadi lembaga yang membiayai berbagai proyek industrial di Negara-negara berkembang di seluruh dunia. Pada tahun 1947, General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) menjadi organisasi perdagangan global yang mengurusi perumusan dan pelaksanaan kesepakatan perdagangan multilateral. World Trade Organization (WTO), yang didirikan pada tahun 1995, kemudian muncul sebagai organisasi pengganti GATT.

Barangkali dua aspek paling penting dari globalisasi ekonomi berkaitan dengan perubahan ciri proses produksi dan internasionalisasi transaksi financial. Robert Gilpin mengakui bahwa meningkatnya kekuatan TNCs telah sangat mengubah struktur dan kinerja ekonomi global.

Perusahaan-perusahaan raksasa dan strategi global mereka menjadi penentu utama arus perdagangan, lokasi industry dan kegiatan ekonomi lainnya di seluruh dunia. Kebanyakan investasi mereka adalah pada sector yang padat modal dan padat teknologi. Perusahaan-perusahaan ini berperan penting dalam penggunaan teknologi baik ke Negara maju maupun Negara berkembang. Akibatnya, perusahaan-perusahaan multinasional kian berperan menentukan perekonomian, politik, dan kesejahteraan social di banyak Negara. Dengan menguasai modal investasi, teknologi, dan akses ke pasar global, perusahaan-perusahaan tersebut menjadi pemain utama tidak hanya dalam ekonomi internasional, namun juga dalam urusan politik.

 

Globalisasi adalah proses politik.

Lowell Bryan dan Diana Farrel mengatakan peran pemerintah pada akhirnya akan menyusut menjadi “superkonduktor bagi kapitalisme global”. Kenichi Ohmae mengungkapkan bahwa Negara-bangsa telah kehilangan peran mereka sebagai unit partisipasi yang penting dalam perekonomian global. Kinerja pasar capital global mengkerdilkan kemampuan Negara untuk mengontrol nilai tukar atau memproteksi mata uang. Proses globalisasi politik akan meruntuhkan terotori, tatanan politik masa depan akan berbentuk semacam perekonomian regional yang saling terkait dalam jaringan global yang nyaris sempurna yang beroperasi menurut prinsip-prinsip pasar bebas.

Salah satu pemikir Neo-Marxist, Caroline Thomas mengatakan globalisasi merupakan kecenderungan proses pemusatan kekuasaan pada tatanan social global dan diungkapkan melalui jaringan global ketimbang melalui Negara berbasis teritori.

Kedua pemikir diatas meyoroti peran Negara dan membantah bahwa globalisasi adalah proses alamiah. Daniel Singer mengatakan bahwa yang ada hanyalah keputusan politik yang dibuat oleh pemerintah untuk mengurangi restriksi internasional pada modal. Hal ini menyebabkan bangsa dan wilayah tetap penting – meskipun dalam konteks yang telah mengglobal.

Pendapat serupa yang mengatakan bahwa Negara masih relevan adalah Jan Aart Scholte yang menyatakan bahwa globalisasi adalah proses “deteritorialisasi relative” yang bertahap, yang mendorong pertumbuhan relasi :suprateritorial” antar masyarakat. Keputusan politik yang kongkrit bertanggung jawab atas perubahan konteks internasional dalam arah deregulasi, privatisasi, dan globalisasi perekonomian dunia, maka keputusan politik yang berbeda dapat membalik kecenderungan kearah sebaliknya. Pendapat Jan Aart ini menegaskan bahwa pemerintah mempunyai peran besar dalam konsep globalisasi ini.

John Gray mencoba melihat dari perspektif lain yaitu pencampuran factor teknologi dan politik. Dia mengatakan bahwa globalisasi adalah proses jangka panjang yang dikendalikan oleh teknologi yang bentuk kontemporernya ditentukan secara politik oleh Negara-negara paling kuat di dunia. Pendapat ini mengatakan bahwa ada dalang dibalik semua kejadian ini. Tokoh utama tersebut menggunakan teknlogi untuk memuluskan tujuaannya. Tapi Gray mengatakan tidak ada kekuatan hegemonic yang stabil, kekuatan ini ialah Anglo-Amerika. Versi yang lebih optimistic dikemukakan oleh Manuel Castells, Sosiolog Spanyol ini memisahkan kekuatan-kekuatan yang mendorong globalisasi ke dalam tiga proses independen : “Revolusi teknologi informasi; krisis ekonomi kapitalisme maupun statisme, dan restrukturasi yang menyertainya; serta berkembangnya gerakan social cultural.

Held dan Richard Falk menggunakan perspektif tatanan global (global governance) untuk mengartikan globalisasi politik. Falk menuntut analisis yang lebih cermat mengenai bagaimana ideology neoliberal memainkan peranannya dalam mengasosiasikan globalisasi dengan seperangkat gagasan dan asumsi tertentu. Held memperkirakan bahwa hak-hak demokrasi akan sangat dipisahkan dari hubungan eratnya dengan unit teritorial tertentu. Jika ini tepat maka akan berupa kemunculan “demokrasi cosmopolitan” yang akan membentuk “dasar yang konstruktif bagi pluralitas identitas untuk berkembang di dalam kerangka saling menghormati dan akuntabilitas.

Globalisasi adalah proses cultural

Tomlison mengatakan globalisasi cultural sebagai semakin meningkatnya jaringan saling keterkaitan dan interdependensi cultural yang kompleks yang menjadi ciri kehidupan social modern. Globalisasi yang dimaksud adalah terjadinya keseragaman kultur di dunia, sehingga tidak ada lagi nilai lokalitas dikarenakan teknologi informasi yang dapat menyebarkan kultur-kultur tertentu (Anglo-Amerika) kesetiap sudut lapisan masyarakat sehingga terbentuk kultur yang homogen. Bahkan Sosiolog Amerika, George Rizter menciptakan istilah “McDonalisasi” untuk melukiskan proses dominasi prinsip-prinsip restoran fast-food di segala lapisan masyarakat Amerika dan seluruh dunia. Sejalan dengan George Rizter, Ilmuwan politik Amerika terkemuka, Benjamin R. Barber memperingatkan pembacanya terhadap imperialisme cultural atas apa yang ia sebut sebagai “McWorld” – Kapitalisme consumer tak berjiwa yang dengan cepat mengubah keberagaman populasi dunia menjadi pasar yang seragam. Tapi tidak semua lapisan masyarakat dengan mudahnya disuapi oleh kultur yang hogomen tersebut, sehingga muncul istilah Jihad. Jihad menurut Barber adalah tanggapan yang ekstrem terhadap kolonialisme dan imperialism serta turunan ekonomi, kapitalisme, dan modernitas mereka. Berbeda dengan pendapat sebelumnya, Ronald Robertson menyatakan bahwa arus kultur global seringkali membangkitkan bentuk budaya local. Budaya-budaya yang selain budaya local diterima oleh masyarakat kemudian budaya tersebut berasimilasi yang kemudian membentuk sebuah budaya baru yang menyebabkan heterogenisasi budaya bukan homogenisasi.

Selain berbicara mengenai homogenitas atau heterogenitas, Hannerz dan Roberson berusaha memperluas konsep globalisasi dengan menampilkannya sebagai “wilayah” multidimensional. Dalam pandangan mereka, globalisasi adalah kondisi material maupun mental, yang dibentuk oleh interaksi aspek-aspek kehidupan social global, local, dan individu yang kompleks dan kerap kali kontradiktif. Teoritisi cultural seperti Ulrich Beck dan Arjun Appadurai membenturkan penafsiran umum mengenai globalisasi sebagai “proses” dengan konsep yang tidak terlalu mekanis mengenai “globalitas”, yang mengacu ada “pengalaman hidup dan betindak melintasi batas”. Appadurai mengidentifikasi lima dimensi konseptual atau “landscape” yang dibentuk oleh arus cultural global : etnoscapes (perpindahan populasi yang melahirkan turis, imigran, pengungsi, dan pelarian); technoscapes (perkembangan teknologi yang mendorong bangkitnya TNCs); finanscapes (aliran capital global); mediascapes (kemampuan elektronik untuk memproduksi dan menyebarkan informasi); dan ideoscapes (ideologi-ideologi Negara dan gerakan social).

Lima Klaim Utama Globalisme

Para pendukung Globalisasi menyatakan bahwa Globalisasi merupakan hal yang sangat bermanfaat. Klaim pertama yang mengatakan bahwa globalisasi adalah liberalisasi dan Integrasi Pasar. Ini menyatakan bahwa globalisasi adalah proses penanaman pemahaman kebebasan dan pasar. Friedman meramalkan globalisasi akan melahirkan pasar global yang tunggal. Ia menyatakan bahwa hal ini akan dicapai melalui “Golden Straitjacket”. Kekuatan-kekuatan Golden Staitjacket memaksa seluruh Negara di dunia untuk mengadopsi tata perekonomian yang sama:

Menciptakan sector swasta sebagai mesin utama pertumbuhan ekonomi, mempertahankan stabilitas harga dan tingkat inflasi yang rendah, menyusutkan besarnya birokrasi Negara, sebisa mungkin mempertahankan keseimbangan anggaran, jika bukannya surplus, menghapus pembatasan investasi asing, menghapus kouta dan monopoli domestic, meningkatkan ekspor, memprivatisasi industry dan layanan jasa milik Negara, menderegulasi pasar modal, menciptkan nilai mata uang yang mengambang, membuka industrinya pada pasar, menderegulasi perekenomiannya untuk mendorong persaingan domestic sebanyak mungkin, sebisa mungkin menghapus semua korupsi di (lembaga) pemerintah, subsidi, dan suap, membuka system telekomunikasi dan perbankan pada persaingan dan kepemilikan swasta, serta membiarkan warga negaranya untuk memilih sendiri berbagai pilihan jaminan pension yang saling bersaing termasuk lembaga pengelola dan pension yang berasal dari luar negeri. Ketika anda telah merajut semua benang ini, maka Anda telah memiliki (pakaian) GoldenStraitjacket.

Klaim kedua menyatakan bahwa globalisasi adalah sesuatu yang tak terelakkan dan tak berbalik. Menurut perspektif globalis, globalisasi mereflesikan penyebaran kekuatan pasar yang tak bisa dibendung yang dikendalikan oleh inovasi teknologi yang menjadikan integrasi global perekonomian nasional menjadi tak terelakkan. Hal ini didukung oleh pernyataan Margareth Tatcher (PM Inggris) dan Ronald Reagen (Presiden AS) yang mengatakan bahwa There Is No Alternative (Tidak Ada Alternatif lain). Hal ini menyebabkan bahwa pengaruh globalisasi tidak dapat dibendung. Hal ini dikarenakan kuatnya actor MNC yang terus menyebarkan paham ini. MNC melakukan ini dengan alasan akan memudahkan mereka untuk melebarkan usahanya sehingga profit mereka bertambah. Ditambah lagi era millennium sekarang, Teknologi dan Informasi semakin memudahkan globalisasi ini masuk kesetiap ranah kehidupan. Hal inilah yang mendasari para pendukung globalisasi menyatakan bahwa globalisasi tidak terelakkan.

Klaim ketiga menyatakan tak seorangpun memegang kendali atas globalisasi. Masyarakat tidak memegang kendali atas globalisasi; pasar dan teknologilah yang memegang kendali. Tindakan-tindakan tertentu manusia barangkali mempercepat atau memperlambat globalisasi, tapi pada akhirnya (meminjam ungkapan Friedrich Engles), tangan gaib pasar akan selalu berkuasa menerapkan kebijaksaannya yang superior. Dilain pihak para pendukung anti globalisasi mengatakan bahwa globalisasi adalah suatu konstruk global yang dibuat dengan sengaja. Argument anti globalisasi menggunakan contoh kebijakan yang diluncurkan ke Negara-negara berkembang pada decade 1990-an ini, kebijakan ini disebut “Konsensus Washington”. Ia berisi sepuluh poin program yang pada mulanya dirancang dan dikumpulkan oleh John Williamson, mantan penasehat IMF di era 1970-an. Program ini kebanyakan diarahkan pada Negara-negara dengan utang luar negeri yang menggunung sejak dasawarsa 1970-an hingga 1980-an. Pada praktiknya, kerangka program itu mengungkapkan bentuk kolonialisme baru. Sepuluh area Konsensus Washington, sebagaimana didefinisikan Williamson, mewajibkan pemerintah-pemerintah Dunia ketiga untuk menjalankan reformasi berikut ini:

–          Menjamin disiplin fiscal, dan mengendalikan defisit anggaran.

–          Mengurangi pengeluaran public, khususnya militer dan administrasi public

–          Reformasi pajak, dengan tujuan menciptakan system dengan basis yang luas dan pelaksanaan yang efektif.

–          Liberalisasi keuangan, dengan tingkat bunga yang ditentukan oleh pasar.

–          Nilai tukar mata uang yang kompetitif, untuk membantu pertumbuhan berbasis ekspor.

–          Liberalisas perdagangan, yang disertai oleh penghapusan ijin impor dan pengurangan tariff.

–          Mendorong investasi asing langsung (foreign direct investment)

–          Privatisasi BUMN, demi manajemen yang efisien dan kinerja yang lebih baik

–          Deregulasi ekonomi

–          Perlindungan atas hak cipta (property rights).

Consensus ini yang menjelaskan bahwa globalisasi adalah agenda desain yang dibuat Negara-negara besar. Ditambah lagi

Golden Staitjacket dibuat di Amerika dan Inggris. Kelompok elektronik dipimpin oleh American Wall Street Bulls. Agen paling digdaya yang memaksa Negara-negara lain untuk membuka pasar mereka bagi perdagangan bebas dan investasi bebas adalah Paman Sam, dan kekuatan militer global Amerika mempertahankan pasar-pasar dan jalur-jalur laut agar tetap terbuka pada era globalisasi kali ini, seperti yang dilakukan Angkatan Laut Inggris pada era globalisasi abad Sembilan belas.

Dari pernyataan-pernyataan diatas sudah jelas bahwa klaim mengenai ketiadaan pimpinan dalam proses globalisasi tidak mencerminkan kenyataan social yang ada. Gagasan bahwa tak ada yang memegang kendali atas globalisasi berfungsi melayani agenda politik neoliberal dalam mempertahankan dan memperluas hegemoni global Amerika.

Klaim keempat menyatakan globalisasi menguntungkan semua orang. Para pendukung globalisasi mengatakan bahwa globalisasi menguntungkan semua orang. Hal ini berdasarkan teori bapak ekonomi liberal (Adam Smith), Trickle Down Effect. Teori ini mengatakan bahwa ekonomi merupakan luapan air. Seseorang di analogian sebagai baskom yang besar, baskom ini di isi air secara terus-menerus sehingga meluap. Luapan air inilah yang dinikmati oleh masyarakat lain. Asumsi ini mengatakan semua orang diuntungkan, tapi memerlukan waktu untuk membuktikan hal itu. Tapi para anti globalisasi justru mengatakan sebaliknya, globalisasi justru lebih memperlebar jarak antara si kaya dan si miskin. Mereka memberikan data-data yang menunjukkan bahwa kekayaan seseorang yang menguasai ekonomi sangat jauh dengan seseorang yang jauh dari ekonomi. Kemiskinan absolute telah meningkat dari 1 milyar di tahun 1995 menjadi 1,2 milyar pada tahun 1999 di tengah meningkatnya globalisasi. Juan Somavia, Direktur-Jenderal ILO, menyimpulkan bahwa dunia usaha, pemerintah, dan organisasi internasional tidak cukup melakukan sesuatu untuk mengurangi kemiskinan dunia; “Kita tidak bisa lagi memberikan kesempatan perbaikan diri pada globalisasi. Dampaknya sudah nyata, dan globalisasi gagal (menanganinya).”

Klaim kelima menyatakan globalisasi meningkatkan penyebaran demokrasi di seluruh dunia. Fukuyama dan Hillary Clinton sepakat bahwa proses globalisasi memperkuat kedekatan antara demokrasi dengan pasar bebas. Argumen mereka berpangkal pada definisi terbatas mengenai demokrasi yang menekankan prosedur formal seperti pengambilan suata dengan mengorbankan partisipasi langsung mayoritas rakyat dalam pengambilan keputusan ekonomi dan politik. Definisi “sempit” atas demokrasi ini merupakan bagian dari apa yang oleh William I. Robinson sebut sebagai proyek neoliberal Anglo-Amerika dalam “mempromosikan poliarki” di Negara-negara berkembang. Bagi Robinson, konsep poliarki berbeda dengan konsep “demokrasi rakyat,” karena yang disebut terakhir ini mengasumsikan demokrasi sebagai proses dan juga cara mencapai tujuan – cara untuk mengalihkan kekuasaan ekonomi dan politik dari tangan minoritas elit kepada massa. Sebaliknya poliarki merepresentasikan model elitis dan terbatas dari demokrasi pasar yang “formal” atau “berintensitas rendah”. Poliarki tidak hanya membatasi partisipasi demokratis pada “aksi mencoblos” ketika pemilu, namun juga mensyaratkan bahwa mereka yang terpilih akan terlindung dari tekanan rakyat, sehingga mereka bisa “memerintah dengan efektif”. Pemilu formal berfungsi melegitimasi kekuasaan elit-elit penguasa, sehingga mempersulit gerakan rakyat untuk menentang kekuasaan elit.

Anti Globalis Sayap Kiri dan Sayap Kanan

Pembedaan antara kelompok kiri dan kanan berawal dari Majelis Nasional Perancis di awal masa-masa revolusi. Wakil-wakil yang mendukung perubahan radikal menuju tatanan social yang lebih setara berkumpul di “sayap” sebelah kiri ruangan, sedangkan mereka yang membela status quo tradisional berada di sayap sebelah kanan. Deputi-deputi Perancis hanya mendukung perubahan moderat duduk di tengah. Norberto Bobbio dalam bukunya Left & Right mengatakan bahwa anggota kelompok politik kuru secara historis menunjukkan dukungan pada gagasan bahwa lembaga social dan politik adalah konstruksi social. Mereka menekankan kekuatan akal budi manusia untuk menciptakan skema praktis bagi peluang dan lain-lain. Namun, tidak semua anggota kelompok kiri mendukung pemusnahan total bentuk-bentuk ketimpangan, hanya kaum kiri ekstrim yang mempunyai posisi radikal semacam itu.

Anggota kelompok politik kanan lebih enggan mendukung kebijakan-kebijakan yang mengurangi ketimpangan social yang ada. Mereka percaya ketimpangan tersebut tetap sah sebab bersandar pada “tatanan alamiah” yang tidak bisa diubah. Hanya ekstrimis dari kubu kanan yang menentang semua perubahan social; yang lainnya mendukung perubahan. Bobbio menyataka bahwa perbedaan antara kiri dan kanan terletak pada nilai, sementara perbedaan antara ekstrimisme dan moderasi terletak pada metode perubahan social.

Berbicara mengenai globalisasi ada yang pro dan kontra. Kelompok yang kontra ini menamakan dirinya kelompok anti-globalisasi. Kelompok anti-globalisasi terbagi menjadi dua kelompok yaitu proteksionis-nasionalis di sayap kanan, dan egalitarian-internasionalis di kubu sayap kiri. Para pendukung proteksionis-nasionalis cenderung menyalahkan globalisasi karena memicu berbagai kehancuran politik, ekonomi, dan social di Negara-negara mereka. Kaum anti-globalis kanan lebih memperdulikan kesejahteraan warga Negara mereka sendiri ketimbang penciptaan tatanan internasional yang lebih setara yang berbasis solidaritas global. Salah satu dari kubu ini adalah kelompok populis. Teoritisi politik Margareth Canovan mendefinisikan populisme sebagai ideology politik yang mengartikulasikan posisi anti-elitis yang menggunakan semacam pemujaan pada (kata) “rakyat” yang dipadu dengan ajakan untuk berpaling pada “nalar sehat” dan “kebajikan moral”. Sedangkan kubu egalitarian-internasionalis mengemukakan peluang untuk membangun kerangka kerja politik dan ekonomi internasional baru yang berbasis pada redistribusi kekayaaan dan kekuasaan. Mereka menuduh elit-elit globalis telah mendorong berbagai kebijakan neoliberal yang menciptakan ketimpangan global yang kian parah, melonjaknya pengangguran, degradasi lingkungan, dan lenyapnya kesejahteraan social.

Kelompok-kelompok anti-globalis ini yang kemudian membentuk aksi-aksi yang terus menentang globalisasi. 18 Juni 1999, ketika berbagai kelompok buruh, HAM, dan lingkungan mengorganisir protes yag dikenal dengan “J18” bersamaan dengan KTT Ekonomi G8 di Cologne, Jerman. Enam bulan kemudian, 40.000 hingga 50.000 orang turut ambil bagian dalam protes anti-WTO di Seattle. Pada Februari 2000, pertempuan tahunan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, diserbu ribuan demonstran yang mengkritik visi globalisasi dan kebijakan neoliberal yang didukung oleh mayoritas delegasi. Pada bulan April 2000, sekitar 15.000 hingga 30.000 aktivis anti-globalis dari seluruh dunia berusaha menggagalkan pertemuan tengah tahunan IMF dan Bank Dunia di Washington D.C. Kebanyakan aksi-aksi ini dibubarkan secara paksa oleh aparat yang berwajib. Pembubaran ini seringkali menyebabkan korban jiwa. Hal ini menyebabkan pada pertemuan WSF 2000 di Brasil menunjukkan adanya inisiatif yang berlimpah untuk mengubah bentuk globalisasi yang ada sekarang sesuai dengan tatanan global, kesetaraan ekonomi dan social, serta penghormatan terhadap HAM. Proposal-proposal kebijakan kongkrit tersebut meliputi, tapi tidak terbatas pada, item-item berikut:

–          Penghapusan seluruh utang Dunia Ketiga

–          Penerapan pajak pada transaksi keuangan internasional

–          Penghapusan pusat-pusat financial di luar negeri yang memberikan tax heaven bagi individu-individu dan perusahaan.

–          Pelaksanaan kesepakatan lingkungan global yang ketat.

–          Implementasi agenda pembangunan global yang lebih adil.

–          Penciptaan lembaga pembangunan dunia baru yang didanai oleh Negara-negara Utara melalui kebijakan seperti pajak transaksi keuangan, namun dikelola oleh Negara-negara Selatan.

–          Penciptaan standar perlindungan buruh internasional, barangkali berbentuk klausa-klausa dalam WTO yang telah direformasi secara menyeluruh.

–          Transparansi dan akuntabilitas yang lebih besar yang diberikan pada warga Negara oleh pemerintahan nasional dan lembaga-lembaga internasional.

–          Menjadikan semua tatanan-globalisasi secara eksplisit sensitive terhadap gender.

Dalam studi mereka berjudul Globalization from Below, aktivis Jeremy Brecher, Tim Costello, dan Brendam Smith menggabungkan sejumlah usulan kebijakan seperti di atas yang kemudian mereka tawarkan untuk menjadi “kesepakatan global baru.” Program-program yang mereka usulkan dipusatkan pada tujuh prinsip dasar. Prinsip pertama menuntut perbaikan kondisi buruh, lingkungan, social, dan HAM dengan memaksakan standar global minimal pada korporasi. Prinsip kedua menuntut demokratisasi lembaga-lembaga social di semua tingkat, dari local hingga global. Demokratisasi ini meliputi pembukaan dialog mengenai masa depan perekonomian global bagi semua warga dunia. Prinsip ketiga menyerukan proses-proses pengambilan keputusan terjadi dilakukan pada level yang sedekat mungkin dengan mereka yang akan mengalami dampaknya. Ini berarti bahwa perusahaan-perusahaan harus akuntabel pada lembaga-lembaga local dan komunitas. Prinsip keempat mendesakkan penutupan kesenjangan antara kaya dan miskin. Selain mendorong kebijakan redistribusi global, para penulis ingin agar lembaga-lembaga keuangan internasional membatalkan utang yang masih ada dari Negara-negara miskin. Prinsip kelima dan keenam menyerukan penerapan secara ketat kesepakatan lingkungan internasional dan penciptaan kemakmuran sesuai kebutuhan lingkungan dan manusia. Prinsip terakhir menurut system perlindungan yang lebih efektif terhadap resesi global.

Yang menjadi masalah adalah bagaimana menjalankan proposal-proposal yang diajukan para kelompok anti-globalis, menandingi hegemoni para korporat-korporat yang telah menancapkan kukunya dengan tajam.

Diatas merupakan resensi singkat dari buku Globalisme, secara keseluruhan buku ini sangat disarankan untuk dibaca untuk mendapatkan informasi yang lebih komprehensif tentang Globalisme. Tapi kemungkinan anda akan menumukan kesulitan untuk menarik ide dasar dari setiap informasi karena dalam penyajian informasi tersebut agak sulit untuk dimengerti. Hal ini dikarenakan buku ini adalah buku terjemahan sehingga informasi-informasi implisit yang ingin disajikan oleh penulis terdistori oleh penerjemahan bahasa. Jika anda cukup hebat dalam berbahasa Inggris anda dapat membaca versi Inggrisnya secara langsung. Bukunya berjudul Globalism, The New Market Ideology.

Image

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s