Peluang Dan Tantangan Diplomasi Indonesia

Standard

Image

Kita pasti sering mendengar kata diplomat ataupun diplomasi. Tapi kita belum tentu tau yang bagaimanakah itu seorang diplomat dan bagaimanakah diplomasi. Menurut menteri Luar Negeri RI Haji Agus Salim bahwa politik luar negeri adalah apa yang kita mau, sedangkan diplomasi adalah apa yang kita dapat. Earnest Satow mengatakan diplomacy is the application of intelligence and tact to conduct official relations between governments of independent states. Sementara Oxford “An Introduction to International Relations” menyebutkan diplomacy refers to a process of communication that is central to the working of the international system.

Berbicara mengenai kegiatan diplomasi pasti fikiran kita akan menuju kedepatemen luar negeri. Karena Negara menciptakan departemen ini untuk mengurusi urusan yang berkaitan dengan Negara lain. Tapi seiring perkembangan zaman tugas diplomasi bukan lagi tugas dari pemerintah melainkan dapat dilakukan oleh swasta. Kegiatan diplomasi yang dijalankan dan dikembangkan oleh unsure non-pemerintah biasa disebut sebagai second track diplomacy

Tugas diplomat sendiri berbagai macam, tapi yang terpenting bagaimana dia bisa mendapatkan informasi tentang suatu Negara yang akan sangat berguna dalam pembentukan sikap atau kebijakan yang berkaitan dengan Negara tersebut. Ketika kita mengatakan berita, sekarang di era millennium ada orang-orang yang kerjanya mencari berita dan memberitahukan berita tersebut kepada orang lain. Tak lain orang itu adalah media. Media pada dewasa ini dapat pula memberitakan sesuatu yang bersifat internasional bukan hanya bersifat local. Terus apa perbedaan antara diplomat dan media? Padahal mereka sama-sama mencari sebuah berita. Diplomat lebih mengutamakan analisis mengenai kebenaran berita dan mencari latar belakang politik mengapa suatu peristiwa sampai terjadi, serta meneliti tentang kemungkinan pengaruhnya terhadap negaranya sendiri maupun terhadap politik dunia. Sedangkan media lebih mengutamakan kecepatan penyiaran beritanya karena harus bersaing dengan kantor berita atau media yang lain.

Setelah kita tahu apa itu diplomat dan yang membedakan dengan media, kita juga harus tahu peran dan fungsi seorang diplomat. Ketentuan yang mengatur tata-cara diplomatic yang berhubungan dengan hak, kewajiban serta kewenangan menjalankan tugas, telah diatur dalam dokumen tertulis yang disebut “Protokol Diplomatik” yang dikukuhkan dalam Kongres Wina 1815, sebagai pedoman untuk semua kegiatan diplomatic dan konsuler.

Ketentuan dalam Kongres Wina 1815 kemudian disempurnakan berdasarkan “Vienna Convention on Diplomatic Relations” tahun 1916, sebagai kodifikasi yang mengatur secara lengkap semua aspek kehidupan diplomatic, yang diberlakukan sebagai “Diplomatic Law”.

Konvensi tahun 1916 inilah yang mengatur peran dari seorang diplomator. Seorang diplomat harus mempunyai intuisi dan tingkat analisa yang tinggi. Kejelian dan ketepatan para diplomat melakukan perkiraan dan melaporkan perkembangan politik yang terjadi di Negara akreditasi yang memang diperlukan oleh negaranya, merupakan fungsi yang paling penting dari seorang diplomat. Selain itu Tugas primer diplomat adalah melindungi Kepentingan Nasional negaranya, warganegaranya serta mengedepankan tugas primer sebagai diplomat.

Kegiatan diplomasi merupakan kebijakan politik luar negeri yang bertujuan untuk memperjuangkan kepentingan nasional. Diplomasi itu sendiri merupakan bagian dari strategi untuk mencapai Sasaran Nasional. Dari sudut pelaksanaan diplomasi, maka kemampuan antisipasi menghadapi kemungkinan ancaman, tantangan, dan gangguan serta memanfaatkan semua peluang sebagai bagian dari perjuangan mencapai sasaran Kepentingan Nasional, yang disebut sebagai Diplomasi Total.

Diplomasi Total mempunyai tujuan ganda, yaitu pertama: untuk menggalang seluruh kekuatan nasional dan kedua : bahwa pelaksanaan diplomasi harus mencerminkan aspirasi masyarakat sebagai bagian dari Kepentingan Nasional.

Seorang diplomat bukanlah orang sembarang yang dipilih yang akan membuat citra seorang diplomat suatu Negara akan tercoreng di muka internasional. Seorang diplomat yang baik atau ideal harus memiliki cirri-ciri tertentu. Menurut Calliares menyebutkan bahwa diplomasi menekankan pada pentingnya mempraktikkan kejujuran dalam urusan diplomatic. Seorang diplomat yang ideal haruslah jujur kepada pihak lain agar kredibilitasnya tidak diragukan.

Menurut Talleyrand, seorang diplomat Prancis dijama Napoleon, mengatakan seorang diplomat yang sukses haru memliki dua kategori kualitas. Pertama, memiliki sikap kehati-hatian, rendah hati, daya ingat yang baik, serta memiliki kemampuan mengevaluasi segi kekuatan dan kelemahan suatu negosiasi, serta ketetapan untuk menjunjung tinggi kehormatan negaranya serta melindungi kepentingan negaranya. Kedua, mempunyai kemampuan analisis suatu masalah secara cepat dan tepat.

Jules Cambon mengatakan bahwa kekuasaan moral harus menjadi kualitas yang paling penting bagi seorang diplomat yang baik. Seni diplomasi menurutnya adalah seni kompromi, mengetahui bagaimana dan bilamana berkompromi, adalah tanda negosiator yang ulung. Seorang diplomat yang baik adalah seorang compromiser yang baik.

Earnest Satow mengatakan bahwa diplomat yang baik adalah apabila selalu bersungguh-sungguh untuk meletakkan dirinya dalam posisi orang yang akan dihadapi, dan berusaha membayangkan apa yang dia inginkan, kerjakan dan katakan.

Harold Nicholson dalam bukunya Diplomacy mengatakan bahwa, seorang diplomat ideal harus memiliki tujuh kualitas yaitu sifat: kejujuran, ketepatan, ketenangan, watak yang mantap, kesabaran, kerendahan hati dan kesetiaan. Dia juga menambahkan Seorang diplomat harus mempertahankan keakuratan dan ketepatan dalam membuat perencanaan dan menyusun/mengirim laporannya.

Setelah perang dunia II, keadaan dunia mengalami banyak perubahan, dan fungs serta kualitas diplomat juga mengalami perkembangan akibat semakin cangihnya teknologi informasi dan kominikasi serta akibat globalisasi dunia. Balance of terror menggantikan balance of power dalam hubungan internasional.

Seorang diplomat sekarang harus lebih waspada bahwa perhitungan yang salah bisa menyebabkan perang. Seorang diplomat harus lebih berhati-hati dalam mengungkapkan statementnya agar tidak menimbulkan kesalah-fahaman, selain harus mampu meyakinkan bahwa pihak lain tidak salah tafsir sehingga tidak menimbulkan ketegangan hubungan.

Sebelumnya saya pernah menyebutkan balance of terror. Balance of terror sendiri adalah keseimbangan yang berbahaya karena memelihara senjata pembunuh antara mereka yang berlawanan yang dapat mengganggu perdamaian dunia, seperti yang dapat kita lihat dalam pertikaian yang berkelanjutan di Timur Tengah. Karena itu seorang diplomat yang baik harus selalu menjaga dirinya agar selalu “well-informed” mengenai perkembangan teknologi dan persenjataan.

Sejak revolusi industry terjadi (1830), alamlah yang menjadi korban. Ketika alam menjadi rusak ini merupakan masalah buat umat manusia. Namun gerakan yang mulai memperhatikan dan memperjuangkan masalah lingkungan atau environment baru muncul sekitar 1970 setelah berlangsung “Stockholm Conference on the Environment” tepatnya tahun 1972. Setelah itu isu lingkungan mulai diperhatikan oleh umat manusia.

Secara teoritis perlu dibedakan antara “ecologist” dengan “environmentalist”, walaupun keduanya memiliki kepentingan yang sama, yakni ingin melindungi kelestarian alam. Ecologist lebih melihat pelestarian alam dari proses alamiah dan terganggunya mata-rantai proses ekologi yang mengakibatkan rusaknya lingkungan alam di sekitar kehidupan manusia. Sedangkan environmentalist lebih melihat kerusakan lingkungan alam dari ulah manusia (kaum industrialist), yang mengaitkannya dengan factor “sebab-akibat” antara kemakmuran, pertumbuhan ekonomi dan pengembangan sector industry.

Setelah isu lingkungan mencuat, banyak Negara-negara yang mulai mempertimbangkan sector yang satu ini. Berbagai gerak diplomasi dilakukan oleh Negara terutam Indonesia yang mempunyai lingkungan alam yang luas. Hal ini mengharuskan para pemegang kekuasaan di Indonesia terutama diplomat untuk menaikkan posisi Indonesia di mata Internasional sebagai wilayah yang harus dilindungi.

Disekitaran tahun 1970-an saat isu lingkungan mulai mencuat, kondisi politik dunia terpecah menjadi dua bagian. Dan merupakan perang non-militer terhebat yang pernah terjadi. Kedua kubu ini saling bersaing untuk membuktikan bahwa kubunya yang terhebat. Perang ini disebut perang dingin. Perang ini bahwa melibatkan Negara-negara yang tidak mempunyai kontribusi langsung terutama di Asia. Perang dingin di benua Asia dianggap berakhir sejak Presiden Nixon dari AS melancarkan “Nixon Doctrine” tahun 1969 yang tujuan utamanya adalah mengurangi keterlibatan langsung kekuatan militer AS di Asia Tenggara, yang kemudian dilanjutkan dengan kunjungan Presiden Nixon ke RRC tahun 1972, yang didahului dengan “ping-pong diplomacy” oleh RRC.

Insiatif AS di Asia “memperlunak” sikap politiknya terhadap RRC dan Vietnam, merupakan upaya diplomasi menyelamatkan muka AS. Gerakan politik dan diplomasi tersebut di Asia antara lain berakibat keanggotaan Taiwan dicabut dari PBB digantikan RRC yang otomatis juga menjadi anggota tetap Dewan Keamanan PBB.

Sedangkan perang Vietnam dapat diakhiri melalui perjanjian Paris antara AS dan Republik Demokrasi Vietnam tahun 1973, yang oleh banyak pihak dianggap sebagai kekalahan politik, diplomasi, dan militer AS di Asia.

Dalam perkembangan zaman, para diplomat dituntut untuk lebih menjalankan tugasnya secara transparan, hal ini berbeda jauh karena diplomat dituntut untuk bersifat tertutup karena mereke bekerja hanya kepentingan yang dimengerti oleh lingkungannya sendiri dengan alasan security Negara. Sifat transparansi dalam pelaksanaan tugas diplomasi disebut sebagai Diplomasi Demokratis atau Demokrasi Terbuka. Maksud dari diplomasi demokratis adalah ketika diplomat mendapatkan suatu berita maka ia harus menyampaikan berita tersebut kepada Legislatif (DPR) bukan hanya kepada Kementerian Luar Negeri. Nicholson, menunjukkan beberapa kelemahan dalam pelaksanaan diplomasi demokratis, yaitu apabila pihak Legislatif mengingkari persetujuan terhadap nilai kerahasiaan dalam suatu Perjanjian Internasional. Dalam hal ini Negara dapat masuk kedalam keadaan bahaya, sehingga bisa mengakibatkan sikap anarkis. Fleksibilitas merupakan karakteristik utama diplomasi yang efektif. Bagi dilomasi yang luwes, kebebasan bergerak merupakan factor yang sangat esensial.

Mendapatkan berita seperti yang disebutkan diatas merupakan tanggung jawab diplomat tetapi dengan kecanggihan teknologi diplomat mempunyai saingan untuk mendapatkan berita tercepat yaitu media, akan tetapi Diplomat dalam melaksanakan peran dan tugasnya dilandasi oleh kepentingan nasional dan misi pemerintah negaranya, sementara antara media terjadi saling adu cepat mengumpulkan dan menyalurkan informasi untuk kepentingan public, yang dilator-belakangi oleh motivasi persaingan antara mereka sendiri.

Diplomat telah berperan sejak jaman Yunani Kuno, pada saat itu kegiatan diplomat merupakan hal tertutup, tetapi semenjak setelah Perang Dunia II, tugas diplomat semakin terbuka demi kepentingan public. Tapi apapun perubahan dalam pelaksanaan diplomat, Inti pokok tugas diplomasi merupakan seni untuk membujuk, mempengaruhi dan meyakinkan fihak lain.

Keberhasilan diplomasi Negara sangat ditentukan dalam melaksanakan fungsi dan tugasnya. Namun keberhasilan diplomat tidak dapat dilepaskan dari system pendidikan dan pelatihan. Kita harus membedakan antara pendidikan dan pelatihak, karena kegiatannya merupakan satu kesatuan yang saling mendukung tetapi mempunyai sasaran yang berbeda.

Pendidikan diplomat dimaksudkan agar setiap diplomat mengenal dan mengerti tentang tata-cara keprotokolan diplomatic, sopan santun, surat-menyurat, perilaku dan berbagai kebiasaan dalam kehidupan diplomatic.

Pelatihan merupakan system dan metoda untuk mengasah dalam rangka mempertajam naluri dan penginderaan serta kecakapan seorang diplomat dalam menilai dan mengantisipasi suatu perkembangan politik, militer, ekonomi, teknologi, ilmu pengetahuan, perdagangan, dan keuangan yang terjadi dalam hubungan antar-bangsa.

Dalam diplomasi ada istilah  perangkat mesin diplomatic. Sebelumnya telah dijelaskan bahwa Diplomasi merupakan bagian dari proses pelaksanaan politik luar negeri, yang meliputi dua hal yang saling berhubungan, yaitu: penyusunan strategi politik luar negeri, dan pelaksanaan kebijakan politik luar negeri.

Dilihat dari kepentingan Pemerintah, terdapat lima fungsi utama peran perangkat mesin diplomat yang meliputi :

–          Kemampuan untuk memilih, mengumpulkan, memilah kemudian mengolah setiap data dan informasi yang diperlukan sebagai Laporan Resmi yang bersifat Rahasia maupun terbuka, sesuai dengan kepentingannya;

–          Member saran (advices) dan penilaian politik;

–          Mewakili kepentingan pemerintah dan Negara;

–          Melakukan negosiasi sesuai petunjuk pemerintah; dan

–          Melaksanakan pelayanan konsuler.

Dalam praktik diplomasi perlu ada pembedaan antara “penyampaian informasi” dengan “laporan politik”. Laporan politik kepada Pemerintah merupakan hasil analisa dari semua informasi yang diperoleh Perwakilan, yang didalamnya memuat saran-tindak politik (political advices), sedangkan penyampaian bahan informasi hanya merupakan bahan mentah yang dapat dianggap sebagai bahan pelengkap, tetapi dapat mengandung semacam “early warning” atau “advance information” mengenai suatu perkembangan tertentu yang perlu diketahui lebih dini oleh Pemerintah untuk dapat diteliti dan dapat ditindak-lanjuti.

Fungsi mesin diplomatic yang cuku penting adalah Tugas untuk mewakili kepentingan Pemerintah dan Negara (Representing), melakukan Negosiasi (Negotiation) dan Pelayanan Kekonsuler (Consular Service).

Dalam diplomasi sering menggunakan cara “persuasi” atau “pure diplomacy”. Tetapi dibutuhkan alat politik lain ketika kita menggunakan cara persuasi ini. Alat politiknya antara lain :

–            Ancaman militer, sebagai upaya menunjukkan kekuatan melalui tekanan bersifat militer walaupun tetap meneruskan negosiasi;

–            Tekanan ekonomi, yang juga merupakan cara lama dalam diplomasi tradisional yang dinamakan “trade diplomacy”. Kerjasama perdagangan dan bantuan ekonomi sebagai daya tarik, seringkali dilakukan setelah Perang Dunia II;

–            Tindakan Subversi, yang ditujukan utuk membantu kelompok yang berniat menjatuhkan pemerintah Negara lain, dengan menggunakan teknik propaganda, kegiatan intelijen atau dengan cara mendukung kegiatan pemberontak di suatu Negara.

Keberhasilan “mixed diplomacy” sangat tergantung dari banyak factor.

Memasuki abad millennium, actor yang terlibat dalam diplomasi semakin banyak. Saat ini, praktik diplomasi ada yang dikenal dengan sebutan “Diplomasi empat mata” yang artinya dua Kepala Negara/Kepala Pemerintahan atau Menteri bertemu untuk saling membicarakan masalah bilateral. Bentuk ini cukup efektif menyelesaikan berbagai “kebuntuan” politik bilateral secara lebih cepat.

Dalam menjalankan diplomasinya Indonesia mempunyai rapor naik turun. Seperti contoh Keputusan PBB yang mengakui Indonesia sebagai Negara Kepulauan (Archipelagic State) ditentang oleh AS, ditambah lagi dengan diberlakukannya SEA-NWFZ (South-East Asia-Nuclear Weapon Free Zone), yang dinilai oleh AS sebagai menganggu kebebasan bergerak kapal-kapal selam nuklirnya dan pesawat terbang militer-nya yang berpangkalan di kapal induk nuklir yang sering berada di sekitar perairan Indonesia.

Walaupun terpetik rumor yang mengatakan bahwa kapal selam nuklir AS bebas lalu lalang di perairan laut dalam Indonesia tanpa terdeteksi, sementara pesawat terbang militernya dibiarkan memasuki wilayah Indonesia tanpa ada perlawanan, karena tidak ada kemampuan menghadapinya. Pembiaran terhadap mereka dapat ditafsirkan bahwa Indonesia kurang mampu melindungi wilayah kedaulatannya sendiri.

Diatas merupakan gambaran singkat dari Buku Abdul Irsan. Keseluruhan buku ini cukup menarik dengan bahasa yang sederhana akan tetapi terdapat beberapa kekurangan, berbagai hal kurang dijelaskan secara mendetail kemudian pindah ke pokok pembahasan yang lain. Dari judulnya Peluang dan Tantangan Diplomasi Indonesia, kita berharap akan disajikan kasus-kasus diplomasi yang pernah dihadapi Indonesia yang membuat kita dapat menganalisis apakah kasus-kasus ini menjadi kemenangan para diplomat kita atau justru kekalahan. Seharusnya buku ini mengambil contoh kasus Sipadan dan Ligitan, sebuah pulau yang cukup bagus yang kemudian menjadi milik Negara tetangga. Jika penulis menyajikan buku ini, maka kita dapat menganalisis dimana kesalahan para diplomat kita dalam mempertahankan kedua pulau tersebut. Selain itu saya (sebagai pembaca) ingin mengetahui dimana posisi Indonesia dalam arus politik dunia, dalam lingkup ASEAN dan dalam lingkup PBB.

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s