Keadilian Tidak Untuk Yang Miskin

Standard

Keadilan tidak untuk yang miskin

Berbicara mengenai keadilan adalah sesuatu yang abstrak karena interpretasi orang tentang adil itupun berbeda. Tapi nilai-nilai universalitas menyetujui bahwa nilai keadilan yang dimaksud ketika kita tidak membeda-bedakan sesuatu. Berbicara mengenai keadilan di Indonesia, kita akan geleng-geleng kepala. Karena kita dengan mudahnya melihat bagaimana keadilan tersebut dipermainkan. Bentuk wadah kita untuk meminta keadilan adalah pengadilan dengan instrumen hukum beserta kawan-kawannya. Instrumen hukum itu digunakan untuk menegakkan keadilan, tapi kenyataan yang berkembang di Indonesia yaitu bagaiman hukum ini dimanfaatkan oleh segelintir orang agar segelintir orang tersebut dapat teradili dengan ringan. Istilah yang sering muncul dikalangan masyarakat Indonesia bahwa hukum itu tajam kebawah tumpul keatas. Maksud dari perkataan ini dikarenakan bagaimana hukum itu terlihat sebagai penjaga yang kejam bagi orang yang berasal dari kalangan bahwa, tetapi jika hukum diberlakukan untuk kalangan atas maka hukum dianalogikan sebagai penjaga yang ramah tamah. Dalam buku ini mencoba menguak beberapa peristiwa bagaimana hukum kita berpihak kepada kalangan elit sehingga istilah keadilan hanya berkutat pada golongan elit tersebut, orang yang dikategorikan miskin akan sulit mendapat keadilan tersebut.

Contoh : kemarin kita melihat bagaimana seorang pencuri semangka diadili oleh hukum kita, pada nyatanya memang benar bahwa dia mengambil hak yang bukan miliknya tetapi beberapa waktu kemudian kita melihat bagaimana koruptor yang diadili oleh hukum kita juga, sama dengan kasus sebelumnya sang koruptor ini mengambil hak yang bukan miliknya. Tetapi kita melihat bagaimana persidangan menanggapi dua kasus ini, seorang pencuri semangka harus ditahan terlebih dahulu kemudian disidangkan dengan memakai baju tahanan, padahal dalam hukum ada yang namanya asas praduga tak bersalah dimana orang yang belum dijatuhi hukuman belum ditetapkan jadi tersangka tetapi kita melihat dia, sang pencuri semangka ini memakai baju tahanan yang berarti tanpa proses persidangan sebelumnya dia telah dijatuhi hukuman bahwa dia bersalah. Berbeda dengan pencuri semangka yang sebelumnya, sang koruptor ini memakai baju yang serba baru dimana dia seperti bukan terdakwa tetapi lebih mirip orang yang ingin ke pesta. Dengan didampingi pengacara handal dia mengelak berbagai macam tuduhan yang disampaikan oleh hakim. Berbicara mengenai hukuman yang ditimpakan kepada dua kasus diatas, kita akan tercengang bagaimana hukum di negara kita. Sang pencuri semangka harus dijatuhi hukuman selama 5 tahun untuk semangka yang harganya 10.000 rupiah, sedangkan sang koruptor dijatuhi hukuman yang sama selama lima tahun lebih rendah dari tuntutan jaksa yang mengajukan hukuman selama 15 tahun. Dia hukum karena menggelapkan uang negara sebanyak milyaran rupiah. Kita bisa melihat ketimpangan diatas, bagaimana hukum di Indonesia sangatlah diskriminatif.

Berbicara mengenai sejarah, hukum Indonesia mulai bobrok pada masa era Orde Baru, dimana pada saat itu jelas sekali bagaimana hukum sangatlah tumpul jika hukum tersebut mengenai penguasa, dan sangat tajam ketika mengenai orang-orang selain penguasa. Kita melihat bagaimana orang-orang yang pernah berinteraksi dengan PKI dipenjarakan dan diskriminasikan dari masyarakat. Orang-orang tersebut bukanlah anggota PKI tetapi hanya kerabat dekat dari anggota PKI tersebut. Apakah salah menjadi kerabat seorang anggota PKI sampai mereka harus mendekam dipenjara selama bertahun-tahun dan setelah mereka keluar mereka harus diasingkan dari masyarakat, KTP mereka diberi tanda bahwa mereka pernah berinteraksi dengan PKI. Itulah sistem hukum yang masih bertahan walaupun era bukan lagi era orde baru tetapi reformasi. Sayangnya reformasi untuk kalangan eksekutif bukan reformasi dalam hal hukum ataupun sistem.

Berbicara mengenai keadilan, banyak orang yang mengatakan bahwa keadilan itu dari perspektif masing-masing individu. Tapi saya menekankan keadilan bahwa keadilan itu tidak membeda-bedakan sesuatu. Jika kita harus tegas, maka kita harus tegas kepada semuanya bukan Cuma tegas atas golongan tertentu. Tetapi keadilan juga mempertimbangkan hati nurani manusia yang tidak pernah berbohong (kebenaran universal), ketika kita menjatuhi hukuman atas seseorang seharusnya kita melihat apa yang dia lakukan sehingga kita harus menjatuhkan hukuman. Kita harus mempertimbangkan banyak hal, jangan hanya terpaku pada pasal-pasal yang dapat ditafsirkan seenaknya oleh para pengacara yang ingin melindungi kliennya atas  dasar bayaran (uang).

Kita mendengar baru-baru ini, bagaimana seorang tahanan mempunyai ruangan tahanan yang mirip dengan hotel. Kita lihat bagaimana kuasa uang untuk mempengaruhi segelintir orang untuk memperlakukan tahanan tersebut secara istimewa. Sedangkan bagi mereka yang tidak punya uang harus mendekam dalam tahanan yang terdiri dari beberapa orang dengan makanan dan fasislitas yang sangatlah minim. Kita melihat disini bagaimana bobroknya hukum di negeri kita, ketika kita mencari jawaban atas kasus tersebut maka jawaban yang sering dipersalahkan adalah oknum. Sudahlah menyalahkan oknum terus, janganlah kita berfikir secara parsial berfikirlah secara holistik. Kenapa kita tidak pernah menyinggung bahwa sebenarnya sistem kita yang salah. Sistem hukum dan peradilan di Indonesia. Seharusnya sekali-sekali kita memperbaiki sistem ini dengan cara revolusi.

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s