Saya Berbelanja Maka Saya Ada

Standard

Buku ini menjelaskan kepada pembaca, bagaimana menyikapi sebuah fenomena yang menurut sebagian masyarakat merupakan hal-hal kecil. Fenomena dimana masyarakat bahkan menjadikan hal tersebut sebagai hobbi. Fenomena itu adalah berbelanja. Seperti yang kita ketahui bahwa dimasyarakat modern seperti sekarang, kita beraktifitas untuk memperoleh sesuatu yang disebut belanja. Dengan belanja seseorang dapat mendapatkan barang yang dia inginkan dengan perantara alat pembayaran. Hal ini merupakan sebuah perubahan dimana berdasarkan sejarah, manusia sebelum abad millenium mengkonsumsi barang dengan mengambil langsung dari alam. Kemudian mulai mengembangbiakkan barang yang ingin dia konsumsi dengan berbagai cara seperti beternak dan bertani. Manusia semakin berkembang dan kebutuhannya pun menjadi kompleks sehingga manusia menciptakan sebuah sistem dimana dia dapat mendapatkan sesuatu yang dia tidak miliki dengan mengorbankan hal yang dia miliki (yang berlebih). Sistem ini dinamakan barter, barter semakin menjadi sebuah sistem yang lebih mempermudah manusia untuk memiliki barang yang lebih banyak dan bervariasi. Tapi barter mempunyai kelemahan karena tidak mudah menemukan barang yang kita inginkan karena beberapa faktor salah satunya, orang yang mempunyai barang tersebut tidak ingin melepas barangnya. Faktor lain susahnya mencari barang barter yang senilai. Untuk itulah diciptakannya uang untuk dijadikan sebagai alat pembayaran (perantara). Uang pertama kali terbuat dari logam kemudian dikembangkan lagi sehingga uang yang kita miliki sekarang kebanyakan dari kertas. Yang menurut sebagian pendapat bahwa uang kertas tersebut mempunyai nilai yang kurang dari yang tertera pada uang kertas tersebut (nilai pembuatannya kurang dibandingkan nilai yang tertera). setelah uang kertas kemudian bermunculan lagi sesuatu yang disebut giro sampai kartu kredit dimana hanya dengan sebuah kartu yang terbuat dari plastik bisa menukarkan sesuatu yang berharga cukup besar. Cukup dulu pembahasan tentang uang karena untuk membahasnya membutuhkan waktu yang cukup banyak. Dan saya fikir kita belum sampai pada pembahasan mengenai buku itu sendiri.

Setelah membahas tentang uang tadi, kita akan melihat sebuah fenomena dimasyarakat dimana seseorang dengan giatnya berbelanja sesuatu. Orang bahkan sulit untuk membedakan mana kebutuhan mana keinginan. Bahkan lagi sebagian besar orang tersamarkan bahwa keinginan merupakan kebutuhan. Untuk lebih mudah kita ambil contoh handphone. Handphone (HP) notabennya merupakan alat komunikasi (telepon & sms). Tapi seiring perkembangan zaman HP termutakhirkan dengan berbagai fiturnya yang lebih kompleks. Sehingga dulunya HP merupakan kebutuhan tersier sekarang menjadi kebutuhan primer bagi sebagian besar kalangan. HP digunakan juga sebagai prestige (gengsi), dimana status sosial seseorang biasanya dipandang diHPnya.

Itulah fenomena sosial yang ada pada masyarakat modern sekarang. Mereka mulai hidup dengan gaya konsumerisme. Sehingga sebagian besar orang berfikir bahwa untuk bisa hidup kita membutuhkan yang namanya uang. Inilah dunia kapitalistik dimana materi menjadi segalanya.

Untuk membahas lebih jauh, dibuku ini menyebutkan bahwa desain merupakan faktor utama dari gaya hidup konsumerisme. Orang tidak lagi hanya membeli barangnya tetapi membeli juga merknya (desain). Karena seperti yang saya sebutkan dicontoh sebelumnya bahwa barang yang kita beli merupakan identitas sosial kita. Mereka membeli sesuatu yang sebenarnya kurang bermanfaat bagi mereka tetapi karena ingin memperlihatkan status sosialnya maka rela mengeluarkan uang yang sangat besar jumlahnya. Gaya konsumerisme ini menjadikan manusia sebagai makhluk yang individualistik dimana sebuah interaksi didasarkan hanya dengan materi. Sikap-sikap sosial manusia mulai terpinggirakan oleh zaman, didesak oleh situasi-situasi ekonomi yang menyebabkan kesenjangan sosial dimana-mana. Ketika kita membeli sebuah baju – yang fungsinya sebagai penutup badan kita –  dengan harga yang cukup besar. Dimana jika uang tersebut jika kita berikan kepada anak-anak jalanan mungkin mereka tidak akan risau tentang perut mereka yang kelaparan malam hari.

Cuma sedikit yang bisa saya ringkas dari buku (Saya Berbelanja, Maka Saya Ada). Sebagian besar hal diatas merupakan buah pemikiran ditambah dengan inti-inti yang dibahas didalam buku. Mudah-mudahan setelah membaca buku ini kita mulai menyingkirkan sifat-sifat ego kita dan mulai menjadi makhluk sosial serta dapat membedakan mana yang sebetulnya kebutuhan daripada keinginan.Image

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s