Gangnam Style sebuah Fenomena Pop Culture

Standard

Gangnam style, budaya korean pop yang lagi hot-hotnya diberitakan oleh media massa. Gangnam style menjadi trend ketika ada opinion leader yang memblow-up hal tersebut. Seperti contoh ketika artis Britney Spears membuat informasi kepada media sosial tentang ketertarikannya dengan gaya tersebut.

Fenemona gangnam style ini dalam dianalisis melalui analisis pop culture atau culture studies dalam ilmu hubungan internasional. Pop culture atau disebut juga dengan budaya populer adalah sebuah budaya yang sering dan dengan mudah diikuti oleh kebanyakan orang. Pop culture menurut R. Williams adalah

  1. Budaya yang sering diikuti banyak orang,
  2. Budaya rendahan,
  3. Budaya hasil kerja untuk orang lain
  4. Budaya hasil kerja untuk diri sendiri.

Dari pendapat menurut R. Williams tersebut kita dapat mengambil kesimpulan bahwa budaya ini diciptakan untuk diri sendiri dan orang lain yang diikuti oleh banyak orang. Budaya-budaya ini menjadi populer berkat keberadaan media massa yang sering memblow-up sebuah budaya yang dianggap sangat menjual.

Sebuah budaya dapat dikatakan sebagai fenomena pop culture apabila memenuhi beberapa syarat antara lain :

  1. Trend, ketika sebuah budaya menjadi trend maka budaya tersebut dapat dikatakan sebagai pop culture. Karena semua orang ingin mencoba dan paling tidak mengetahui tentang budaya tersebut.
  2. Homogenisasi / kesamaan bentuk, budaya pop culture sendiri sebagian besar Cuma mengambil satu bentuk hiburan yang dimana bentuk hiburan ini tidak beda dengan hiburan lain. contoh musik melayu, dan sekarang budaya korean pop (Boy & Girlband)
  3. Adaptabilitas, budaya pop culture dapat beradaptasi dengan budaya-budaya lain sehingga budaya ini tidak tertolak mentah-mentah karena pertentangan budaya.
  4. Durabilitas / unik, budaya pop culture ketika memenuhi unsur ini dapat bertahan lama. Karena pasar sekarang sangat membutuhkan sebuah keunikan didalam kondisi dimana hal-hal akan terlihat sama.
  5. Profitabilitas, ini jelas karena dengan budaya pop culture ini merupakan ladang basah bagi para pemilik industri-industri untuk meraup untung sebanyak-banyaknya.

Setelah membaca berbagai hal tentang diatas maka kita akan bertanya, “Apa salahnya dengan Pop Culture itu sendiri?”. Nah dengan adanya dominasi dari pop culture kita semakin lupa akan budaya kita sendiri, kita lebih pede dengan budaya orang lain. Tetapi ketika budaya kita diambil oleh orang lain, kita tiba-tiba marah. Sesuatu yang sangat mengherankan tentunya, ketika kita ingin melindungi budaya kita sendiri tapi tidak ingin melestarikannya bahkan tidak mau tahu dengan budaya kita sendiri. Identitas kita sebagai sebuah masyarakat bugis contohnya bisa hilang karena budaya pop culture ini.

Akhirnya kita tahu sedikit apa itu pop culture, untuk menambah pengetahuan lagi kita akan mengupas sedikit tentang fenomena Gangnam Style. Gangnam adalah nama salah satu didistrik di Korea Seletan yang katanya setara dengan Beverly Hills, didistrik ini budaya glamour sangat kental. Gangnam style sendiri sebenarnya lagu resistensi (perlawanan) / kritik terhadap budaya glamour di Gangnam. Ketika kita melihat video klip dari gangnam style sendiri kita akan mendapati sebuah gerakan bagaikan menunggangi seorang kuda. Hal itu berarti artis-artis dikorea ditunggangi oleh para pemilik media (production house). Ketika seseorang ingin menjadi seorang artis sebagian dari mereka harus merubah diri mereka seperti apa yang telah distandarisasikan oleh para pemilik production house tersebut. Sehingga banyak yang kehilangan jadi diri mereka.

Ada asumsi yang berkembang mengapa gangnam style ini sering diliput media, asumsi ini mengatakan bahwa ini adalah sebuah pengalihan isu yang pada saat sebelum meledakknya gangnam style ini, media sering menyoroti distrik gangnam karena disana terdapat production house milik artis terkenal korea seperti SNSD dll. Media sering menyorot distrik ini karena adanya berita bahwa jika seseorang terutama wanita ingin dipublikasin menjadi seorang artis, dia harus “ditiduri” oleh beberapa agen. Hal ini yang membuat gangnam style dikritik karena budaya korea masih menganggap tabu terhadap peristiwa itu. Dengan munculnya gangnam style (yang sebenarnya kritik sosial) media berusaha mengalihkan perhatian masyarakat ke gangnam style sehingga isu yang sebelumnya telah muncul bisa dikesampingkan bahkan dilupakan oleh masyarakat.

Seperti yang kita tahu budaya korean pop telah melanda indonesia, banyak para penikmat musik yang dulunya menyukai musik genre melayu kemudian beralih ke musik pop korea. Kita akan ingat 2 atau 3 tahun lalu dimana para wanita dan penikmat musik sangat menyukai band-band melayu kemudian sekarang mereka beralih menjadi penikmat musik korean pop. Kita melihat fenomena disini bahwa masyarakat sebagai konsumen musik seakan-akan dikendalikan (dikonstruk) oleh media, sehingga media mempunyai andil besar terhadap apa diri kita. Mereka dapat merubah selera musik kita bahkan mereka dapat merubah paradigma kita yang seperti mereka inginkan. Kita melihat sekarang yang bisa dibilang orang-orang sudah tidak ada yang peduli terhadap sesama, lingkungan, maupun yang lain. Mereka disibukkan dengan keadaan diri mereka sendiri dimana mereka merasakan sangat nyaman dengan keadaan tersebut dan tidak memikirkan orang lain. Lagu-lagu berperan besar terhadap sikap itu, karena ketika kita mendengar lagu yang hanya berkutat pada romantika, kehidupan dll. Otak akan merespon makna yang tersirat dalam lagu tersebut yang jika kita sering mendengar lagu tersebut maka pandangan kita akan mengikuti pesan tersirat dari lagu tersebut. Kita semua tahu pasti bahwa setiap lagu yang kita konsumsi membawa sebuah ideologi / cara pandang.

Kita seharusnya rindu terhadap lagu-lagu kritik sosial karena dengan lagu ini kita dapat melihat fenomena lain dari diri kita sendiri. Lagu-lagu kritik sosial memacu kita untuk berfikir bahwa “dunia sekarang sedang tidak baik-baik saja”.

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s