Analisis Berita Media Massa

Standard

Seminggu tujuh kali, setiap pagi dinikmati (dibaca) bersama dengan kopi. Itulah rutinitas sebagian orang yang berpendapat bahwa kita tidak boleh ketinggalan berita baik lokal, nasional dan internasional. Itulah berita, sebuah teks yang memberikan kita informasi terbaru yang berkembang didunia ini. Tapi sebagian besar orang Cuma membaca tanpa menganalisis berita yang dia baca sehingga informasi yang masuk difikirannya tidak tersaring. Ditambah sekarang, media massa mulai mengesampingkan pekerjaan mulianya (memberikan informasi) karena ingin meraup keuntungan materi sebanyak-banyaknya. Media Cuma memberitakan sesuatu yang heboh dan sangat subjektif ditambah kurang menggali informasi yang dia beberkan kehadapan publik. Nah, publik sekarang harus pintar-pintar untuk menganalisis sebuah berita, karena banyaknya asumsi yang mengatakan bahwa berita sekarang Cuma mencari keuntungan material semata, bahkan menggunakan slogan “Bad News Is A Good News”. Mereka mencari berita Cuma menampakkan kejelekan dari berita tersebut, sebagai contoh ketika adanya demo anarkis, media-media berebutan meliput aksi anarkisnya dan kebanyakan melupakan kenapa demo itu anarkis dan mengapa demo itu terjadi. Cuma media-media investigasi yang biasa melakukan pengumpulan informasi yang mendalam. Media juga sering ditunggangi oleh para pejabat-pejabat yang ingin memperoleh kekuasaan dengan menampilkan sesuatu yang serba sempurna. Itulah media, bahkan ada slogan yang mengatakan bahwa “siapa yang menguasai informasi maka dia yang menguasai dunia”.

Setelah berbicara sedikit tentang betapa hebatnya media, maka sebagai pembaca kita harus pintar-pintar memilih sebuah berita untuk kita konsumsi jangan sampai ketika kita mengkonsumsi sebuah informasi mentah-mentah kita akan terdoktrin (mengikuti) perspektif media tersebut. Untuk menilai kebenaran atau validitas suatu berita tidaklah mudah, karena banyak hal yang mendasari munculnya suatu berita. Suzanne Pitner (pengajar dan aktivis media) pernah menulis artikel berjudul “How to Analyze the News“. Ia memberikan beberapa tips untuk menganalisis berita, yang ia singkat dengan istilah strategi COPS (Context, Opinion, Perspective, Sources):

1. Context: Kenali Berita sesuai Konteksnya! Berita bersifat memberikan kita informasi yang terpotong-potong. Berita itu diambil melalui kamera dan mata wartawan dan diinformasikan ke ranah publik. Kamera dan mata wartawan ini memiliki kekurangan karena kamera dan mata wartawan cenderung bersifat objektif sehingga berita tidak bisa menginformasikan realistas yang sebenarnya terjadi. Hal itu disebabkan karena adanya keterbatasan waktu dalam peliputan dan pelaporan media (khususnya media televisi) yang cederung memberikan informasi yang sedikit. Penonton berita ditelevisi harus bersedia membaca untuk mengetahui lebih lanjut tentang informasi yang dia saksikan di media televsi. Konteks berbeda dengan apa yang diperlihatkan (tampak).. Konteks lawannya adalah teks (teks tidak terbatas pada tulisan tetapi dapat diperlebar maknanya pada apa saja yang tampak). Teks memberikan informasi yang bersifat denotatif, sedangkan konteks merupakan pemahaman dari makna teks yang bersifat konotatif. Pemahaman konotatif setiap orang berbeda-beda dari makna denotatifnya karena dipengaruhi latar belakang, pendidikan, dan sebagainya.

Sebagai contoh ketika terjadi unjuk rasa yang berakhir ricuh. Ini adalah teks. Maka pemirsa yang tekstual akan melihat informasi “telanjang”. Lantas dinilai secara “hitam atau putih” (baik atau buruk). Tetapi pemirsa yang kontekstual tidak berhenti pada informasi yang tampak, akan tetapi akan mencari lebih dalam, kenapa aksi tersebut tejadi, bagaimana kronologinya, apa isu yang dibawah dalam unjuk rasa itu, kenapa isu itu harus dikritisi, bagaimana cara untuk mencegah agar unjuk rasa semacam itu tidak ricuh, dan apa yang harus dilakukan ketika kita berada dalam situasi tersebut. Pertanyaan-pertanyaan ini yang membuat kita dapat menempatkan berita ke dalam konteks.

2. Opinion: Pisahkan Pendapat dari Fakta! Pendapat dari narasumber dalam berita atu opini bukanlah sebagai fakta. Karena pendapat ataupun opini sangat subjektif karena pendapat dan opini tersebut sesuai dengan cara pandang dirinya, pemahaman dirinya, tapi bukan merupakan fakta yang sesungguhnya. Fakta bukan merupakan persepsi manusia, melainkan fakta itu berdiri sendiri. Setiap orang berhak untuk mengklaim bahwa pendapat dirinya mewakili fakta, tetapi fakta tidak bisa diwakili oleh siapapun. “Persepsi manusia terhadap api tidak bisa menggambarkan api yang sesungguhnya, karena api persepsi tidak membakar sedangkan api sejati (fakta) sifatnya membakar.”

Walaupun pendapat tidak bisa mewakili fakta tapi ada cara agar pendapat mewakili sedikit fakta tapi tetap pendapat itu tidak bisa dinyatakan seratus persen fakta. Caranya yaitu dengan metode hermeneutik. Metode hertemenutik adalah metode untuk menjembatani agar opini dapat berbasis pada fakta, yaitu dengan narasi yang lengkap, angka statistik dan tidak sepotong-sepotong. Tulisan berita umumnya tidak bisa menggunakan metode ini. Yang bisa adalah tulisan feature karena kaya akan deskripsi dari relung-relung terdalam dari realitas. Selain itu, harus disertai bukti yang digunakan dan dengan cara yang baik serta logis. Gambar-gambar dapat dijadikan alat bukti.

3. Perspective: Lihatlah Cara Pandang Pemberitaannya! “Negara telah gagal dalam mensejahterakan rakyatnya”.Kalimat tersebut sering kali terdengan di pemberitaan-pemberitaan media massa. Dari editorial tersebut dianggap telah mewakili narasi dari pemberitaan dimedia. Kalimat tersebut menunjukkan cara pandang media yang sangat subjektif dan kalimat tersebut bersifat emosional bukan memberitakan. Media dengannya telah melakukan penilaian bahkan mengadili. Padahal media tidak punya kapasitas untuk menilai dan mengadili. Media adalah perantara (medium), dengannya cara pandang media harus independen.

Perspektif media tidak boleh tumpang-tindih dengan kepentingan. Dengan alasan  kendala waktu dan ruang maka media akan menentukan cerita mana yang mendapatkan ruang yang paling banyak, dan cerita mana yang diedit atau bahkan dipetieskan. Pertimbangan untuk melakukan tersebut harus dari perspektif publik bukan dari perspektif pemilik modal.

4. Sources: Bandingkan Berita dengan Banyak Sumber! Media sendiri memiliki berbagai macam aliran, jika kita fokus hanya satu media maka perspektif kita digiring untuk sama dengan perspektif media tersebut. Penyampaian berita akan berbeda dalam memberitakan satu hal yang sama. Makanya agar kita paham betul terhadap suatu berita maka sebaiknya kita membaca dan memahami lebih dari satu sumber. Teknik trianggulasi dapat digunakan. Trianggulasi adalah pembuktian informasi melalui berbagai sumber media atau dengan berbagai sumber opini

———————-

Diadaptasi dari: Suzanne Pitner, How to Analyze the News, Media Literacy, Suite 101,

About basribashl

Seorang yang mencoba untuk lebih memahami dunia. Seorang Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Hasanuddin Angkatan 2011. Seorang yang ingin bertahan dalam idealisme Seorang yang ingin belajar lebih banyak Seorang yang ingin berbagi lebih banyak

5 responses »

    • terima kasih atas komentarnya,
      pembaca yang baik adalah pembaca yang meninggalkan jejak di bahan bacaannya sebagai apresiasi terhadap informasi baru yang dia dapatkan.

  1. maaf mau bertanya di nomer 2 tentabg opini, di paragraf 2 tertulis cara agar pendapat mewakili sedikit fakta, itu dengan metode yang mana yang benar ? metode hermeneutik. atau Metode hertemenutik?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s